Pengertian dan Sejarah Bhineka Tunggal Ika Lengkap

Diposting pada

Sejarah bhineka tunggal ika – Hari ini Sudut Sekolah akan membahas seputar semboyan Indonesia, yaitu Bhineka Tunggal Ika, pada masa sekolah ini termasuk pelajaran PKN, nah pada hari ini kita akan membahas sejarah bhineka tunggal ika secara lengkap dan mendalam, dimulai dari pengertian Bhineka Tunggal Ika terlebih dahulu.

Pengertian Bhineka Tunggal Ika

Bhinneka Tunggal Ika merupakan sebuah kata-kata yang terdapat pada burung garuda pancasila sebagai lambang negara Republik Indonesia. Pada kaki burung garuda tersebut mencengkram sebuah pita dengan tulisan Bhinneka Tunggal Ika. Kata-kata tersebut memiliki arti “Berbeda-beda tapi tetap satu jua

Secara bahasa kata Bhinneka Tunggal Ika berasal dari bahsa Jawa Kuno yaitu Bhinneka yang memiliki arti beragam, bermacam-macam, berbeda-beda, Tunggal yang memiliki arti satu dan Ika memiliki arti itu. Jadi, secara umum Bhinneka Tunggal Ika memiliki arti Beragam Satu Itu.

Lambang negara Republik Indonesia adalah burung garuda yang menoleh ke kanan (dari sudut pandang garuda) atau Garuda Pancasila. Semboyan dari Garuda Pancasila adalah Bhinneka Tunggal Ika.

Baca juga: Fungsi partai politik dalam negara demokrasi

Lambang negara Republik Indonesia ini dirancang oleh Sultan Hamid II yang berasal dari Pontianak. Namun, penyempurnaan dari lambang ini oleh Presiden Soekarno lalu diresmikan penggunaannya sebagai lambang negara pada saat sidang kabinet Republik Indonesia Serikat pada tanggal 11 Februari 1950.

Sebagai lambang negara Republik Indonesia, Garuda Pancasila tentu sudah diatur di dalam UUD 1945 pasal 36A dan UU No 24 tahun 2009 tentang bendera Indonesia, bahasa, lambang negara dan lagu kebangsaan. (LN 2009 Nomor 109, TLN 5035)

Sebelum diatur di dalam UUD 1945 pasal 36A dan UU No 24 tahun 2009, lambang negara diatur di dalam Konstitusi RIS , UUD sementara 1950 dan Peraturan Pemerintah No.43/1958. Pada pasal 36A dijelaskan bahwa Lambang Negara Indonesia adalah Garuda Pancasila dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika dengan arti Berbeda-beda tapi tetap satu itu dan pada Pasal 36B menjelaskan tentang Lagu Kebangsaan adalah Indonesia Raya.

Pengaturan tentang lambang, bendera dan lagu kebangsaan harus dilakukan karena untuk memperkokoh kedudukan dan makna Indonesia dalam kehidupan global serta mengatasi hubungan internasional yang terus berubah. Walaupun sepertinya hal itu terlihat hanya simbolis, namun hal itu sangat penting karena menunjukkan identitas negara Indonesia di dunia internasional.

Adanya atribut kenegaraan tersebut diharapkan menjadi suatu simbol persatuan rakyat Indonesia dalam menghadapi segala ancaman yang ada baik ancaman keutuhan negara maupun ancaman kesatuan bangsa dari negara lain.

Kata-kata Bhinneka Tunggal Ika sendiri sudah terdapat di dalam buku Sutasoma, yang di karang oleh Mpu Tantular pada masa Majapahit abad ke-14. Di dalam buku Sutasoma sendiri dijelaskan bahwa pengertian dari Bhinneka Tunggal Ika lebih terfokus dalam mempersatukan perbedaan kepercayaan masyarakat kerajaan Majapahit.

Makna dari Bhinneka Tunggal Ika itu sendiri adalah walaupun berbeda-beda ( baik ras, suku, agama ) tetapi kita tetap satu kesatuan ( Indonesia ). Kata Bhinneka Tunggal Ika sendiri menggambarkan kondisi yang ada di Indonesia dengan bermacam-macam suku, bahasa dab budaya yang sangat melimpah.

Oleh karena itu, kata-kata Bhinneka Tunggal Ika di ambil sebagai makna pemersatu bangsa Indonesia. Keberagaman suku, bahasa dan budaya merupakan sebuah kekayaan yang hanya di miliki oleh Indoensia yang seharusnya sebagai masyarakat Indonesia kita bisa menjaga persatuan kita dengan mempelajari makna Bhinneka Tunggal Ika.

Contoh pelaksanaan dari Bhinneka Tunggal Ika dalam kehidupan sehari-hari adalah selalu belajar menghargai orang lain yang berbeda dengan kita, baik berbeda suku, bahasa, maupun kepercayaan. Tidak boleh mengganggu orang lain atau mencela apa yang dilakukan orang lain, kecuali orang tersebut berbuat yang dilarang oleh norma.

Pada semboyan Bhinneka Tunggal Ika diharapkan untuk membuang jauh-jauh sifat ogoisme atau mementingkan diri sendiri baik daerahnya, wilayahnya, atau sebagainya karena disini kita itu satu, yaitu Indoensia.

Oleh karena itu, kita sebagai warga negara yang baik harus mengamalkan Bhinneka Tunggal Ika kepada masyarakat umum supaya persatuan dan kesatuan bangsa tetap terjaga dan harmoni.

Sejarah Bhineka Tunggal Ika

Semboyan resmi negara Indonesia dulunya panjang yaitu Bhineka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa. Semboyan Bhineka Tunggal Ika untuk pertama kalinya dikenal pada masa Majapahit era kepemimpinan Wisnu Wardhana. Yang merumuskan semboyan Bhineka Tunggal Ika adalah Mpu Tantular dalam Kitab Sutasoma.

Pada dasarnya perumusan semboyan ini adalah pernyataan kreatif dalam usaha mengatasi keragaman kepercayaan dan keagamaan. Ini dilakukan sehubungan dengan usaha bina negara kerajaan majapahit pada saat itu. Semboyan ini memberikan nilai inspiratif dalam sistem pemerintahan pada masa kemerdekaan

Semboyan Bhineka Tunggal Ika juga membangkitkan semangat persatuan dan kesatuan negara kesatuan republik Indonesia. Di kitab Sutosomo, pengertian Bhineka Tunggal Ika lebih diutamakan dalam hal perbedaan kepercayaan dan keragaman agama yang berada di masyarakat Majapahit.

Tetapi konsep semboyan Bhineka Tunggal Ika tidak hanya dalam hal perbedan agama dan kepercayaan namun memiliki pengertian yang lebih meluas. Semboyan ini memiliki jangkauan yang luas, seperti dalam hal perbedaan suku, bangsa, budaya, perbedaan pulau dan pastinya agama dan kepercayaan.

Perbedaan yang berada di Indonesia bertujuan yang satu atau sama yaitu bangsa dan negara Indonesia. Berhubungan dengan lambang negara kesatuan republik Indonesia, lambang garuda pancasila dan semboyan Bhineka Tunggal adalah lambang resmi yang menjadi bagian dari negara Indonesia melalui peraturan pemerintahan nomor 66 tahun 1951 pada 17 Oktober 1951 dan di undang-undangkan pada 28 Oktober 1951

Pada masa Majapahit ataupun masa pemerintahan Indonesia ini berlandaskan pandangan yang sama yaitu semangat persatuan, kesatuan dan kebersaam sebagai dasae dalam menegakkan negara. Sedangkan semboyan “Tan Hana Darma Mangrawa” ini digunakan sebagai motto lambang lembaga pertahanan nasional. Maksud dari semboyan itu adalah “Tidak Ada Kebenaran yang Bermuka Dua”.

Akan tetapi lembaga pertahanan nasional mengubah semboyan itu menjadi “Bertahan Karena Benar”. Maksud dari “Tidak ada kebenaran yang bermuka dua” itu mempunyai pengertian agar hendaknya manusia senantiasa berpegang dan berlandaskan pada kebenaran yang satu. Semboyan Bhineka Tunggal Ika Tan Hana Darma Mangrawa ini memaknai kebenaran dalam keragaman unsur kepercayaan pada Majapahit.

Bukan hanya Siwa dan Budha, tetapi beberapa aliran sejak pertama sudah terkenal dahulu sebagai anggota masyarakat Majapahit yang memiliki sifat majemuk. Sehubungan dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika, asal dari Singasari adalah di masa Wisnuwardhana sang Dhinarmeng Ring Jajaghu atau Candi Jago, semboyan dan Candi Jago tersebut disempurnakan pada masa Kerajaan Majapahit.

Maka dari itu, dua simbol itu dikenal sebagai hasil dari peradaban masa Kerajaan Majapahit. Masyarakat Majapahit itu masyarakat mejemuk dari segi agama dan kepercayaan.

Selain berdirinya beberapa aliran agama dan kepercayaan, tetapi juga muncul gejala sinkretisme yang menonjol antara siwa dan budha serta pemujaan kepada roh leluhur. Akan tetapi kepercayaan pribumi tetap bertahan bahkan mempunyai peran yang paling tinggi dan terbanyak di kalangan mayoritas masyarakat.

Baca juga: Jelaskan latar belakang berdirinya ASEAN

Saat itu, masyarakat Majapahit ada beberapa golongan. Pertama golongan orang Islam yang datang dari Barat dan menetap di Majapahit. Kedua adalah golongan orang China yang pada umumnya berasal dari Canton, Chang-Chou dan Fukien yang bermukin di Majapahit. Tetapi dari mereka banyak yang masuk Islam dan ikut menyiarkan agama Isalam.

Nah, itulah pembahasan lengkap dan mendalam seputar pengertian bhineka tunggal ika dan sejarah bhineka tunggal ika, semoga kita sebagai warga negara dapat menjaga keutuhan kesatuan yang telah ada dari dulu sejak semboyan bhineka tunggal ika dibuat, terima kasih telah membaca, semoga bermanfaat. Aamiin.