Peninggalan Kerajaan Sriwijaya

14 Peninggalan Kerajaan Sriwijaya Beserta Gambar Lengkap

Diposting pada
No ratings yet.

Peninggalan Kerajaan Sriwijaya – Halo sobat Sudut Sekolah, pada hari ini saya ingin sharing seputar pelajaran Sejarah yaitu tentang 15 peninggalan Kerajaan Sriwijaya. Sebelumnya saya juga telah sharing seputar peninggalan kerajaan lainnya beserta gambar.

Banyak sekali peninggalan Sriwijaya yang berbentuk candi, sehingga di bawah ini akan banyak candi peninggalan Kerajaan Sriwijaya dan kitab peninggalan Kerajaan Sriwijaya serta prasasti peninggalan Kerajaan Sriwijaya.

Sriwijaya berasal dari bahasa Sanskerta, Sri berarti “Bercahaya” atau “Gemilang”, dan Wijaya berarti “Kemenangan” atau “Kejayaan”, merupakan kerajaan yang berdiri di pulau Sumatera yang memberi banyak pengaruh pada Nusantara dengan dikuasainya Kamboja, Thailand Selatan, Semenanjung Malaya, Sumatera, Jawa Barat, dan kemungkinan Jawa Tengah.

Kerajaan Sriwijaya berdiri dan berkuasa mencapai lebih dari 350 tahun lamanya, dan telah meninggalkan berbagai peninggalan yang bisa kita lihat sekarang ini. Ada yang berbentuk candi dan prasasti, ada juga yang ditemukan di dalam dan luar Indonesia. Karena itu, saya akan menjelaskan tentang 15 peninggalan Kerajaan Sriwijaya.

Prasasti Peninggalan Kerajaan Sriwijaya

Jumlah peninggalan dari Kerajaan Sriwijaya yang berbentuk prasasti cukup banyak, yaitu sejumlah 11 buah yang akan saya jelaskan. Berikut penjelasan lengkapnya.

1. Prasasti Kota Kapur

Peninggalan warisan Sriwijaya pertama yang kami sebutkan adalah prasasti Kota Kapur. Prasasti ini ditemukan di Pulau Bangka bagian Barat menggunakan bahasa Melayu Kuno dan menggunakan aksara Pallawa, yang ditemukan oleh J.K. Van der Meulen pada tahun 1892. Prasasti ini dipinjamkan oleh Museum Nasional Indonesia kepada Museum Kerajaan Amsterdam, Belanda hingga tahun 2012.

Prasasti ini menjelaskan tentang kutukan atau hukuman bagi mereka yang tidak setia terhadap Raja Sriwijaya. Disebutkan Sri Jayasana memerintah pasukan militernya untuk menghukum Bhumi Jawa yang membangkang kerajaan. Prasasti ini menjelaskan bahwa Sriwijaya menguasai beberapa wilayah Sumatera, Lampung, Pulau Bangka, dan Belitung. Bukan hanya itu, Sriwijaya juga menguasai wilayah Barat Nusantara, Semananjung Malaya, Thailand Selatan. Sriwijaya juga menguasai jalur perdagangan maritim Selat Malaka, Laut Cina Selatan, Selat Sunda, Laut Jawa, Selat Karimata.

2. Prasasti Hujung Langit

Selanjutnya dari peninggalan Kerajaan Sriwijaya adalah Prasasti Hujung Langit yang ditemukan di Desa Haur Kuning, Lampung, dan diperkirakan prasasti ini berasal dari tahun 997 masehi, dengan menggunakan bahasa Melayu Kuno dan aksara Pallawa. Isi dari prasasti ini tidak terlalu jelas karena kerusakan yang cukup banyak pada tulisan sehingga sulit untuk memahaminya.

3. Prasasti Palas Pasemah

Prasasti ini ditemukan di pinggir rawa Desa Palas Pasemah, Lampung bagian Selatan dengan bahasa Melayu Kuno aksara Pallawa. Prasasti ini terdiri dari 13 baris tulisan. Jika dilihat, prasasti ini diperkirakan berasal dari abad ke-7. Isi dari prasasti ini adalah kutukan atau hukuman bagi para pembangkan kekuasaan Kerajaan Sriwijaya.

4. Prasasti Karang Berahi

Prasasti ini ditemukan oleh L.M. Berhout pada tahun 1904 di wilayah Batang Merangin, Dusun Batu Bersurat, Desa Karang Berahi, kecamatan Pamenang, Merangin, Jambi. Prasasti ini dilengkapi dengan tulisan aksara Pallawa dengan bahasa Melayu Kuno, namun tidak ada tahun. Isi prasasti ini adalah tentang kutukan untuk pelaku kejahatan dan yang tidak setia terhadap Raja Sriwijaya.

5. Prasasti Talang Tuwo

Selanjutnya, prasasti peninggalan Kejaraan Sriwijaya adalah Prasasti Talang Tuwo yang ditemukan oleh Louis Constant Westenenk pada 17 November 1920 di kaki Bukit Seguntang tepi bagian utara Sungai Musi. Prasasti ini tertulis di bidang datar 50×80 cm dengan jelas bisa dibaca, berangka 606 saka, atau 23 Maret 684 masehi, dengan menggunakan bahasa Melayu Kuno dan aksara Pallawa. Prasasti terdiri dari 14 baris kalimat yang diterjemah pertama kali oleh Van Ronkel dan Bosh yg dimuat pada Acta Orientalia. Lalu disimpan dalam Museum Nasional Jakarta pada tahun 1920.

Peninggalan Kerajaan Lainnya:

1.  √ Peninggalan Kerajaan Kediri

2. √ Peninggalan Kerajaan Demak

3. √ Peninggalan Kerajaan Aceh

4. √ Peninggalan Kerajaan Kutai

5. √ Peninggalan Kerajaan Tarumanegara

Prasasti ini berisi tentang Raja Sriwijaya pada waktu itu, Sri Jayanasa, dalam pembangunan taman bernama Taman sriksetra, serta berisi doa harapan terhadap taman tersebut yang mengacu kepada aliran Budha yang pada masa sriwijaya di kala itu merupakan aliran Mahayana.

6. Prasasti Kedukan Bukit

Prasasti Kedukan Bukit Peninggalan Kerajaan Sriwijaya

Prasasti selanjutnya ditemukan di Kampung Kedukan Bukit, Kelurahan 35 Ilir, Palembang, Sumatera Selatan yang tepatnya di tepi Sungai Tatang, prasasti ini ditemukan pada tanggal 29 November 1920 oleh M. Batenburg. Prasasti Kedukan Bukit menggunakan Bahasa Melayu Kuno dan ditulis di batu dengan ukuran 45 x 80 cm menggunakan aksara Pallawa. Prasasti Kedukan Bukit ini telah disimpan di Museum Gajah atau Museum Nasional Indonesia di Jakarta.

7. Prasasti Telaga Batu

Prasasti Telaga Batu ditemukan pada tahun 1935 di Kecamatan Ilir, Palembang, Sumatera Selatan.

8. Prasasti Leiden

Prasasti Leiden merupakan salah satu dari beberapa prasasti peninggalan Sriwijaya yang ditemukan diluar wilayah Indonesia. Prasasti Leiden ditemukan di India pada tembaga berangka tahun 1005 Masehi yang menggunakan Bahasa Sanskerta dan Bahasa Tamil.

9. Prasasti Bukit Siguntang

Peninggalan prasasti bukit siguntang ini ditemukan di komplek pemakaman raja-raja Kerajaan Sriwijaya. Prasasti ini berisi tentang cerita peperangan yang memakan banyak sekali korban jiwa pada masa itu.

10. Prasasti Amoghapasha

Prasasti Amoghaspasha

Prasasti Amoghapasha dibuat pada sekitar tahun 1286 Masehi yang merupakan hadiah dari Raja Kartanegara kepada Raja Suwarnabhumi yang disambut bahagia oleh para warganya. Prasasti ini ditemukan di sekitar Jambi.

11. Prasasti Ligor

Prasasti ini ditemukan di Nakhon Si Thammarat, Thailand bagian Selatan. Prasasti warisan Kerajaan Sriwijaya ini memiliki dua sisi pahatan yang berbeda. Sisi pertama pada prasasti ini dinamakan Prasasti Ligor A, atau manuskrip Viang Sa, yang menjelaskan bahwa Raja Sriwijaya adalah raja dari segala raja di dunia, dan mendirikan Trisamaya Caitya untuk Kajara. Sisi yang kedua bernama Prasasti Ligor B yang kemungkinan besar dibuat oleh raja dari wangsa Sailendra. Sisi kedua prasasti ini menceritakan pemberian gelar kepada Sri Maharaja sebagai Visnu Sesawarimadawimathana, yang artinya pembunuh musuh yang sombong sampai tak tersisa.

Candi Peninggalan Kerajaan Sriwijaya

12. Candi Muaro Jambi

Candi Muaro Jambi

Seperti namanya, candi ini terletak di Muaro, Jambi. Candi ini merupakan salah satu peninggalan Kerajaan Sriwijaya yang diperkirakan merupakan peninggalan Kerajaan Melayu dan juga Sriwijaya. Candi pertama kali diketahui oleh S.C. Crooke, asal Inggris, ketika melakukan pemetaan daerah aliran sungai untuk kepentingan militer. Beberapa selang waktu yang lama, pakar epigrafi, Boechari, menyatakan bahwa candi tersebut berasal dari abad ke-9 hingga 12 masehi, dengan ditemukannya aksara Jawa Juno pada beberapa lempengan pada candi.

Candi Muaro Jambi ini merupakan candi terluas di Asia Tenggara dengan luas hingga 3981 hektar. Lokasi candi ini memuat 9 buah candi yang baru mengalami proses pemugaran, yaitu: Gedong Satu, Kembar Batu, Kotomahligai, Gedong Dua, Tinggi, Gumpung, Candi Astano, Kembang Batu, Telago Rajo, Kedaton. Di sekitar kompleks candi ini juga ditemukan sebuah parit atau kanal kuno buatan manusia, sebuah kolam penampungan air, dan gudukan tanah yang terdapat stuktur bata kuno di dalamnya. Setidaknya ada 85 buah menapo di kawasan yg dimiliki penduduk setempat.

13. Candi Muara Takus

Candi Muara Takus

Peninggalan selanjutnya adalah Candi Muara Takus yang terletak di Desa Muara Takus, Kecamatan XIII Koto, Kampar, Riau. Candi ini dikelilingi oleh tembok 74×74 meter yang terbuat dari batu putih setinggi 80 cm. Candi ini sudah aja sejak masa kejayaan Sriwijaya, sehingga candi ini menjadi salah satu pusat pemerintahan kerajaan pada waktu itu.

Bentuk bangunan candi ini bersifat unik karena tidak ada candi di Indonesia selain ini, karena bangunannya mirip seperti Stupa Budha di Negara Myanmar, Vietnam, dan Sri Langka, karena stupa yang mempunyai ornamen roda dan kepala singa. Kemiripan-kemiripan ini ditemukan di seluruh kompleks candi, sehingga candi ini bersifat unik.

14. Candi Bahal

Candi Bahal

Candi Bahal bisa juga disebut Candi Portibi ini ditemukan di Desa Bahal, Kecamatan Padang Bolak, Portibi, Kabupaten Padang Lawas, Sumatera Utara, jaraknya sekitar 400 km dari Kota Medan. Candi ini diperkirakan telah ada dari abad ke 11. Candi ini menggunakan batu merah untuk bangunan intinya. Kompleks Candi Bahal ini dikelilingi dengan menggunakan pagar dengan tinggi dan tebal 1 meter yang dibuat pula dengan batu bata merah.

Silahkan berikan rating