Peninggalan Kerajaan Samudra Pasai

8 Peninggalan Kerajaan Samudra Pasai Beserta Gambar Lengkap

Diposting pada

Peninggalan kerajaan Samudra Pasai – Kerajaan yang berletak di dearah pesisir utara Pulau Sumatera tepatnya di Kota Lhokseumawe dan Aceh Utara, Provinsi Aceh ini disinyalir mempunyai bebeberapa peninggalan kerajaan Samudra Pasai yang sangat unik. Secara singkat Samudra Pasai adalah sebuah kerajaan bernuansakan Agama Islam pertama di Indonesia.

Jauh-jauh saat belum adanya kerajaan Samudra Pasai, wilayah Pasai memang sudah ditempati oleh penduduk muslim yang awalnya merupakan imigran dari Persia, Arab, Mesir serta wilayah timur tengah yang lainnya.

Baca juga: Peninggalan Kerajaan Singasari

Saat melakukan kunjungan ke Pasai tersebut para imigran-imigran tersebut menyebarkan Agama Islam di wilayah itu dan melakukan perdagangan juga. Secara kenyataan, Islam ternyata gampang diterima oleh masyaakat di wilayah itu sehingga peradaban Islam berkembang sangat pesat lalu menyebar ke berbagai wilayah.

Kerajaan ini setelah pertahanannya dinilai kuat secara sesegera mungkin melakukan peluasan kekuasaan ke daerah pedalaman meliputi Samerlangga, Balek Bimba, Tamiang, Beruana, Simpag, Buloh Telang, Perlak Hambu air serta Pasai dan masih banyak lagi. Demi memperingati Islamisasi, Sultan Malik al-Saleh menikah dengan putri Raja Perlak.

Sultan Malik al Saleh akhirnya meninggal pada tahun 1297 dan dimakamkan di Kampung Samudera Mukim Blang Me dengan nisan makam berciri khas Islam. Lalu jabatan sultan pasai tersebut dilanjutkan oleh putranya yang bernaama Sultan Malik al Thahir. Sultan ini mempunyai dua orang putra yaitu Malik al Mansur dan Malik al Mahmud. Ketika kecil, kedua anak terebut diasuh dengan Sayid Ali Ghiatuddin dan Sayid Asmayuddin.

Pewaris kerajaan maka kedua anaknya tersebut. Sedangkan untuk kedua pengasuhnya tersebut mereka angkat menjadi perdana menteri dan ibu kota kerajaan pernah dipindahkan ke Lhokseumawe.

Kehidupan masyarakat kerajaan Samudra Pasai perihal perdagangan serta pelayaran, tentu saja itu dikarenakan oleh letak kerajaan Samudra Pasai yang dekat dengan Selat Malaka selaku jalur pelayaran dunia saat itu. Samudra Pasai menggunakan Selat Malaka yang menghubungkan Samudra Pasai – India – Cina – Arab.

Samudra pasai pun mempersiapkan bandar-bandar dagang yang digunakan untuk menambah perbekalan berlayarnya, lalu untuk masalah perkapalannya sendiri mengumpulkan barang dagangan yang akan dikirim ke luar negeri dan tak lupa menyimpan barang dagangan sebelum diantar ke banyak daerah di Indonesia.

Lalu, para pedagang yang asing tersebut singgah ke Malaka untuk sementara waktu guna mengurusi perdagangan mereka. Melalui hal tersebutlah para pedagang dari beragam bangsa tersebut bergaul hingga beberapa lama dengan masyarakat di daerah itu.

Peluang ini digunakan oleh pedagang Islam dari Gujarat, Persia, serta Arab guna menyebarkan Agama Islamnya. Alhasil, kehidupan sosial masyarakat dapat lebih maju dan bidang-bidang seperti perdagangan serta pelayaran pun bertambah maju juga.

Sebagai pembuktian bahwa kerajaan Samudra Pasai benar-benar dipengaruhi oleh Islam ialah adanya perubahan aliran Syafi’i di Samudra Pasai ternyata menganut perubahan di Mesir pula.

Saat di Mesir lagi ada pergantian kekuasaan dari Dinasti Fatimah yang beraliran Syafi’i pada Dinasti Mameluk yang beraliran Syafi’i. Aliran ini sendiri melakukan penyesuaian terhadap adat istiadat setempat sehingga kehidupan sosial masyarakatnya ialah campuran Islam dengan kebiasaan istiadatnya.

Selaku kerajaan Islam tertua di Nusantara, Samudra Pasai sering sekali didatangi oleh berbagai penjelajah, kita bisa sebut Ibnu Batutah dan Laksamana Cheng Ho. Alhasil tidak usah heran apabila kerajaan Samudra Pasai mempunyai begitu banyak catatan sejarah di masa lalunya.

Nah apa saja catatan-catatan sejarah tersebut? Berikut ini kami sajikan beberapa peninggalan kerajaan Samudra Pasai yang mungkin kalian ingin tahu. Perhatikan saja baik baik ya.

Peninggalan Kerajaan Samudra Pasai

1. Cakra Donya

Peninggalan kerajaan Samudra Pasai, Cakra Donya
Sumber: https://situsbudaya.id/

Peninggalan kerajaan samudra pasai pertama adalah cakra donya. Cakra donya ialah sebuah lonceng yang mempunyai bentuk menyerupai stupa buatan negeri China pada tahun 1499 M. Bentuk dari ukurannya sendiri mempunyai tinggi 125 cm sementara lebar 75 cm.

Sementara bagian luar Cakra Donya ini ada beberapa hiasan dan simbol-simbol perpaduan aksara Cina, bertuliskan Sing Fang Niat Tong Juut Kat Yat Tjo, dan untuk aksara Arabnya telah tidak terbaca lagi.

2. Makam Sultan Malik Al-Shaleh

Makam Sultan Malik Al-Shaleh, Peninggalan Kerajaan Samudra Pasai
Sumber: https://steemit.com/

Berikutnya adalah Makam Sultan Malik Al-Shaleh yang mana makam ini berletak di desa Beuringin, Kec Samudera berjarak kurang lebih 17 km sebelah timur kota Lhokseumawe tersebut.

3. Makam Sultan Muhammad Malik Al-Zahir

Peninggalan kerajaan Samudra Pasai selanjutnya adalah makam Sultan Muhammad Malik Al-Zahir. Letak makam ini bersebelahan dengan makam ayahnya yakni Malik Al-Saleh. Jadi Malik Al-Zahir ini merupakan putra dari Malik Al-Saleh yang menjadi pemimpin kesultanan Samudra Pasai pada tahun 1287 hingga 1326 M.

4. Makam Teungku Sidi Abdullah Tajul Nillah

Teungku Sidi Badullah ini merupakan cicit dari khalifah Al-Mutasir yang mana beliau ini mempunyai jabatan sebagai Menteri Keuangan Samudra Pasai. Makam ini merupakan peninggalan dari Dinasti Abbasiyah dan berposisi letak di Gampong, Kuta Krueng, untuk batu nisannya sendiri dibuat memakai bahan marmer dihiasi kaligrafi.

5. Makam Teungku Peuet Ploh Peuet

Ada 44 orang ulama dari Kesultanan Samudera Pasai yang dibunuh sebab mengharamkan pernikahan raja dengan putri kandungnya. Makam ini mempunyai letak di Gampong Beuringen yang Kec Samudera. Di nisan makam tersebut terdapat tulisan kaligrafi surat Ali Imran ayat 18.

6. Makam Ratu Al-Aqla (Nur Ilah)

Peninggalan kerajaan Samudra Pasai keenam adalah makam Ratu Al-Aqla. Pada batu nisan makam Ratu Al-Aqla terdapat tulisan hiasan kaligrafi berbahasa Arab dan Kawi. Ratu Al-Aqla ini sendiri merupakan putri dari Sultan Muhammad Malikul Dhahir. Letak daripada makam ini yakni di Gempong, Meunje Tujoh Keca, Matangkuli.

7. Stempel Kerajaan Samudra Pasai

Ketika ditemukan stempel kerajaan Samudra Pasai ini sudah berkeadaan parah pada bagian gagangnya. Diduga stempel ini merupakan milik Sultan Muhamad Malikul Zahir berdasarkan peneliti Tim Sejarah Kerajaan Islam. Untuk ditemukannya sendiri stempelnya di Desa Kuta Krueng, Kec Samudera, Kabupaten Aceh Utara.

8. Naskah Surat Sultan Zainal Abidin

Nah peninggalan kerajaan Samudra Pasai yang terakhir yaitu naskah surat tulisan Sultan Zainal Abidin pada tahun 923 H atau 1518 M, naskah atau surat ini sebenarnya ditujukan ke Kapitan Moran.

Bisa dibilang hal-hal ini akan menjadi suatu bahan yang bisa dipelajari bagi generasi-generasi penerus yang mempunyai keinginan tahu bagaimana sih sejarah terdahulu di Kerajaan Samudra Pasai ini.

Untuk yang paling kental melekat pada catatan sejarah kerajaan ini ialah mengenai masa kejayaan dan masa keruntuhannya sendiri. Dimana pada masa kejayaannya Samudra Pasai dinilai kuat dalam beragam bidang, alhasil mempunyai pengaruh besar dan sangat disegani oleh kerajaan lainnya.

Sementara itu untuk masa kemudurannya sendiri bukan tidak lain faktor penyebabnya ialah perang saudara dan invasi Portugal ke wilayah Samudra Pasai.

Baca juga: Sejarah Kerajaan Majapahit

Catatan sejarah yang penting lainnya ialah beberapa peninggalannya yang sudah Sudut Sekolah sebutkan diatas seperti makam menteri, makam raja, hingga barang berharga lainnya. Sebab peninggalan sejarah itulah yang akan menjadi bukti kuat bahwa kehidupan kerajaan Samudra Pasai dahulu itu benar adanya.

Demikianlah kurang lebihnya beberapa peninggalan kerajaan Samudra Pasai yang bisa saya berikan. Kurang lebihnya mohon maaf, dan saya ucapkan terima kasih sudah membaca.