Kisah Nabi Adam

Kisah Nabi Adam dan Siti Hawa Singkat Namun Lengkap

Diposting pada

Kisah Nabi Adam – Sebagai orang yang beragama Islam maka kita harus mengetahui dan mempercayai kisah sejarah nabi-nabi di masa lalu, karena salah satu rukun iman adalah iman kepada Nabi dan Rasul. Pada hari ini kita akan mempelajari mengenai kisah Nabi Adam dan Siti Hawa lengkap.

Kisah Nabi Adam Sebagai Manusia Pertama

Kisah Nabi Adam singkat ini kita awalai dengan penciptaan Nabi Adam. Allah SWT sebelum menciptakan Nabi Adam terlebih dahulu memberitahu kepada para malaikat-malaikat-Nya. Di hadapan para malaikat Allah SWT mengatakan ingin menciptakan manusia dan menjadikannya khalifah di bumi.

Baca juga: Shalawat nabi

Para malaikat justru khawatir penciptaan manusia dan menjadikannya khalifah di bumi malah akan membuat kerusakan. Namun Allah SWT menjawab dengan tegas, “Aku lebih tahu dari apa yang kalian tahu”.

Allah SWT menciptakan Nabi Adam berbahan dasar tanah yang kemudian diberi bentuk. Tanah yang digunakan Allah SWT bercampur dari berbagai daerah di bumi dan memilki beberapa warna, yakni warna putih, merah, cokelat dan kuning.

Maka tidak heran jika anak cucunya berbeda-beda warna kulitnya. Kemudian Allah SWT mencampur tanah penyusun bentuk tubuh Nabi Adam dengan empat macam air (Air manis, air asin, air amis, dan air pahit).

Setelah bentuk Nabi Adam sempurna diciptakan langsung oleh tangan Allah SWT, kemudian ditiuplah ruh ke dalam tubuh Nabi Adam yang juga langsung keluar dari Allah SWT. Penciptaan Nabi Adam juga dibekali dengan akal yang membedakan manusia dengan makhluk yang lainnya.

Selanjutnya dalam kisah Nabi Adam singkat ini kita bisa mengetahui bahwa akal diberikan kepada Nabi Adam dan keturunannya supaya menjalankan tugasnya sebagai khalifah di bumi. Pemberian akal ini pula yang akhirnya membuat para malaikat mengakui keistimewaan yang diberikan kepada Nabi Adam.

Kedurhakaan Iblis Kepada Allah SWT dalam Kisah Nabi Adam

Penciptaan Nabi Adam telah sempurna dan diberi ruh langsung oleh Allah SWT. Kemudian Allah SWT memerintahkan kepada malaikat dan iblis untuk melakukan penghormatan kepada Nabi Adam sebagai tanda kehormatan bagi Nabi Adam atas karunia ilmu yang Allah anugerahkan kepada beliau.

Para malaikat mengikuti apa yang diperintahkan Allah SWT kepada mereka, akan tetapi iblis enggan untuk bersujud atau memberi penghormatan kepada Nabi Adam dengan dalih Nabi Adam atau manusia tercipta hanya dari tanah liat kering (lumpur) hitam yang diberi bentuk.

Iblis menyombongkan asal bentuk dirinya dari api yang merasa lebih unggul dari Nabi Adam yang terbuat dari tanah. Karena itulah iblis menolak perintah Allah SWT untuk bersujud menghormat kepada Nabi Adam.

Iblis merasa iri dan dengki mengapa harus Nabi Adam yang dimuliakan oleh Allah SWT padahal ia lebih baik, lebih pintar, lebih kuat, dan lebih banyak ibadahnya.

Kesombongan iblis ini membuat dia menjadi makhluk yang membangkang terhadap perintah-perintah Allah SWT, sehingga membuat Allah SWT benar-benar murka kepada iblis. Kemudian Allah SWT mengusir iblis dari surga dalam keadaan hina dan dina.

Pengusiran iblis dari surga ini tidak membuat iblis sadar dan bertobat, akan tetapi iblis malah menyalahkan Nabi Adam atas pengusiran yang menimpanya dan membuat Iblis semakin dendam kepada Nabi Adam. Iblis pun bersumpah akan menyesatkan seluruh keturunan Nabi Adam.

Iblis tidak akan tinggal diam melihat anak keturunan Nabi Adam hidup dengan aman di dunia dan akhirat. Niat pembalasan dendam ini membuat iblis meminta permohonan kepada Allah SWT supaya dia dan keturunannya (syaithan) diberikan panjang umur sampai hari kiamat.

Iblis dan keturunannya, para syaithan akan selalu menimbulkan pertengkaran dan permusuhan antara orang tua dengan anaknya, saudara dengan saudaranya, suami dengan istrinya, teman dengan temannya, dan hal-hal lainnya yang membuat manusia tidak bisa selamat.

Kita perlu belajar dari kisah nabi Adam singkat ini dalam menghadapi iblis yang durhaka tersebut.

Siti Hawa Sang Pemecah Sunyi dalam Kisah Nabi Adam

Nabi Adam yang diciptakan oleh Allah SWT diberikan tempat di surga. Tanpa teman yang sama dengan rupa Nabi Adam, hanya ada malaikat. Nabi Adam mulai merasa kesepian karena terhitung hidup seorang diri di surga. Maka diciptakanlah pendamping untuk Nabi Adam, yakni Siti Hawa.

Penciptaan Siti Hawa terjadi saat Nabi Adam tertidur, dan beliau bermimpi melihat sosok Siti Hawa yang menawan nan cantik (sesaat sebelum Siti Hawa diciptakan). Siti Hawa diciptakan berasal dari tulang rusuk sebelah kiri milik Nabi Adam. Bentuk dan tinggi badan Siti Hawa sama dengan Nabi Adam, namun Allah SWT membentuknya lebih feminim dan kecantikannya melebihi seribu bidadari.

Ketika Nabi Adam terbangun dari tidurnya, Siti Hawa sudah berada di sampingnya. Seketika itu Nabi Adam takjub dan jatuh cinta pada Siti Hawa hingga syahwatnya tergugah. Kemudian dikatakan kepada Nabi Adam, “Jangan engkau lakukan itu sampai engkau mendatangkan maharnya”. Nabi Adam pun menanyakan apa maharnya, dan Allah SWT menjawab, “Bacakan shalawat pada nabiku dan kekasihku Muhammad SAW”.

Nabi Adam bertanya-tanya siapa sosok Muhammad SAW, lantas bertanya kepada Allah SWT. “Siapakah Muhammad SAW itu?” Allah menjawab, “Muhammad SAW merupakan keturunanmu kelak, dan dia adalah nabi terakhir, seandainya bukan karena Muhammad SAW, aku tidak akan menciptakan ‘alam”.

Dalam riwayat lain mahar untuk Siti Hawa dikatakan, “Aku mencegah kalian dari pohon gandum, maka janganlah kalian dekati pohon itu atau memakannya. Dan itulah maharnya.”

Kisah Nabi Adam dan Hawa Diturunkan ke Bumi

Pembangkangan iblis berbuntut panjang karena harus menerima hukuman dikeluarkan dari surga dan tidak boleh tinggal di surga. Hukuman tersebut menjadikan iblis tambah semakin dendam dengan Nabi Adam dan menginginkannya juga keluar dari surga.

Kisah Nabi Adam dan Hawa berlanjut, Allah SWT mengijinkan Nabi Adam dan Hawa untuk tinggal di surga tentunya dengan serba hidup enak dan cukup apapun kebutuhannya.

Hanya Saja Allah SWT melarang satu hal terhadap Nabi Adam dan Siti Hawa, yakni keduanya memperoleh satu pantangan yang harus diingat Nabi Adam dan Siti Hawa untuk tidak mendekati pohon terlarang dan memakan buahnya (Buah Khuldi).

Larangan untuk Nabi Adam dan Siti Hawa ini menjadi jalan bagi iblis untuk menggusur tempat tinggal Nabi Adam dan Siti Hawa di surga. Iblis mencari segala cara untuk bisa menjerumuskan Nabi Adam dan Siti Hawa agar melakukan dosa dengan mendekati pohon yang dilarang.

Dengan berbagai tipu muslihatnya iblis akhirnya Nabi Adam dan Siti Hawa mendekati pohon yang dilarang oleh Allah SWT sekaligus memakan buah dari pohon yang dilarang tersebut.

Pelanggaran yang dilakukan oleh Nabi Adam dan Siti Hawa yang diperdaya oleh iblis, seketika membuat aurat Nabi Adam dan Hawa membuka. Keduanya mencari daun untuk menutup auratnya kembali karena merasa malu. Dengan perasaan malu Nabi Adam dan Siti Hawa menangis sambil memanjatkan doa pertaubatan karena telah melanggar larangan mereka.

Pertaubatan Nabi Adam dan Siti Hawa diterima oleh Allah SWT. Pelanggaran yang dilakukan oleh keduanya dijadikan pelajaran dan kesadaran bahwa iblis adalah musuh yang nyata dan tidak lagi boleh dipercaya apapun tipu muslihatnya.

Meski pertaubatan Nabi Adam dan Siti Hawa diterima, namun Allah tetap menghukum Nabi Adam dan Siti Hawa dengan mengeluarkan mereka dari surga serta menurunkan keduanya ke bumi dalam jarak yang jauh antara Nabi Adam dan Siti Hawa.

Ketika diturunkan ke bumi, Nabi Adam ditempatkan di Hindustan, sedangkan Siti Hawa diturunkan di Jeddah, Saudi Arabia. Terpisah jarak yang sangat jauh, Nabi Adam dan Siti Hawa dipertemukan kembali setelah sekian lama di Jabal Rahmah daerah Arafah.

Pertemuan menjadi terasa sangat membahagiakan setelah perjuangan panjang Nabi Adam dan Siti Hawa untuk menemukan antara satu sama lain dan menjalani hidup bersama-sama dengan lebih bahagia.

Kisah Nabi Adam dan Hawa Beserta Anak-anaknya

Nabi Adam dan Siti Hawa dipertemukan kembali setelah sekian lama, dan kembali bermesraan karena lamanya tidak berjumpa. Selanjutnya dalam kisah Nabi Adam singkat ini mereka berdua menjalani kehidupan sebagai sepasang suami istri, dan mereka pun mempunyai keturunan.

Keturunan yang dilahirkan oleh Siti Hawa selalu dalam keadaan kembar laki-laki dan perempuan. Kelahiran pertama dari Siti Hawa melahirkan kembar yang bernama Qabil dan Iklima. Kemudian Siti Hawa melahirkan kembali dua pasangan kembar yang bernama Habil dan Labuda.

Pada perkembangan anak-anak Nabi Adam dan Siti Hawa ketika mulai beranjak dewasa memunculkan perangai yang berbeda-beda dari masing-masing anak. Qabil anak kembar pertama memiliki karakter yang keras dan kasar, sedangkan kembarannya yaitu Iklima menjadi remaja yang cantik dan lembut.

Kemudian pada kembar kedua, Habil menjadi sosok yang memiliki sikap sopan santun lebih daripada kakanya, sedangkan Labuda menjadi remaja yang biasa-biasa saja. Masing-masing anak-anaknya memliki tugas sendiri dalam membantu urusan rumah tangga Nabi Adam dan Siti Hawa.

Semakin bertambahnya kedewasaan anak-anak Nabi Adam dan Siti Hawa, mulai muncul ketertarikan antar lawan jenis di antara anak-anak Nabi Adam dan Siti Hawa.

Lantas, turun petunjuk dari Allah SWT untuk segera menikahkan anak-anak Nabi Adam dan Siti Hawa dengan aturan mereka tidak boleh dinikahkan dengan saudara kembar sendiri. Perintah ini mengartikan bahwa Qabil harus menikahi Labuda dan Habil harus menikahi Iklima.

Petunjuk yang diberikan Allah SWT tersebut kemudian disampaikan Nabi Adam kepada anak-anaknya dengan tegas dan tidak boleh ada yang menolak. Diluar dugaan, petunjuk yang disampaikan oleh Nabi Adam ditolak oleh Qabil anak kembar pertamanya, dan Qabil menginginkan untuk menikah dengan Iklima yang merupakan kembarannya sendiri.

Kondisi tersebut mengakibatkan terjadinya perselisihan diantara anak-anak lelakinya. Nabi Adam pun menawarkan solusi dengan jalan berkurban, sesiapa yang kurbannya diterima oleh Allah SWT maka dialah yang berhak untuk menikahi Iklima. Nabi Adam memiliki pandangan untuk masalah jodoh ini akan lebih baik apabila dipasrahkan kepada Allah SWT.

Baca juga: Rukun haji

Ketika tiba harinya yang ditentukan, Qabil dan Habil mempersiapkan kurbannya masing-masing. Qabil merasa sangat optimis bahwa kurbannya yang akan diterima. Sedangkan Habil menyibukkan diri dengan memilih kurban yang terbaik untuk dikurbankan. Setelah keduanya meletakkan kurbannya di bukit, mereka bersama-sama memandangi bukit tersebut dari kejauhan.

Kemudian muncullah api besar dari yang langit yang langsung menyambar kurban milik Habil. Hal ini menandakan bahwa kurban yang diterima oleh Allah SWT adalah kurban milik Habil, dan sesuai kesepakatan yang berlaku, Habil berhak untuk menikahi Iklima.

Qabil tidak berdaya untuk menolak dan harus menerima keputusan bahwa Habillah yang berhak menikahi Iklima. Akan tetapi, hati Qabil masih tidak terima bahkan dengki terhadap Habil. Perasaan dengki ini kemudian menimbulkan dendam sehingga memunculkan fikiran untuk berbuat jahat, membunuh Habil.

Namun, karena manusia generasi kedua, Qabil tidak tahu menahu bagaimana cara membunuh saudaranya. Maka, muncullah iblis menjelma manusia dan mencontohkan kepada Qabil dengan media burung. Iblis membunuh burung tersebut menggunakan batu dengan memukul kepala burung tersebut.

Dengan percontohan yang diperagakan oleh iblis, Qabil menjadi mengerti bagaimana caranya membunuh Habil. Qabil menunggu waktu yang tepat untuk melaksanakan rencananya membunuh Habil menggunakan batu besar. Dan akhirnya Qabil menghantamkan batu besar kepada Habil sampai menghembuskan nafas terakhirnya. Kemudian Qabil belajar kepada burung gagak dalam rangka menguburkan mayat Habil ke dalam tanah.

Kisah Nabi Adam Wafat

Beberapa Nabi diberi anugerah agar bisa merasakan waktu akhir yang akan mencabut nyawanya, begitu juga Nabi Adam yang dianugerahi kelebihan untuk bisa merasakan detik-detik akhir masa hidupnya. Hal ini membuat Nabi Adam telah mempersiapkan semuanya sebelum meninggal.

Dalam persiapannya, pertama Nabi Adam mengawali dengan mengajukan permintaan terakhir kepada putra-putranya untuk memakan buah surga. Permintaan ini menjadi hal yang sulit bagi putra-putranya, karena di alam dunia yang serba fana ini buah surga sangat mustahil untuk ditemukan dan buah surga hanya ada di alam akhirat. Maka, permintaan ini harus dimaknai secara harfiah.

Ada ulama’ yang menafsirkan permintaan Nabi Adam ini, permintaan ini ditengarai merupakan sebuah isyarat bahwa Nabi Adama tengah dilanda rindu berat akan kebahagiaan surgawi yang pernah beliau tempati sebelum diturunkan ke bumi. Ini juga merupakan isyarat bahwa kewafatan beliau semakin dekat.

Walau begitu, sebagai anak yang berbakti kepada orang tuanya, putra-putra Nabi Adam tetap pergi mencarikan buah surga. Akan tetapi tak selang lama mereka berjalan meninggalkan sang ayah, sejumlah lelaki menghadang mereka dan bertanya, “Wahai anak-anak Adam, kalian mencari apa? Apa yang kalian inginkan? Dan ke mana kalian akan pergi?”

Mereka menjawab, “Ayah kami sedang sakit, dia ingin memakan buah yang berasal dari Surga.”

“Pulanglah, karena ketetapan untuk ayah kalian telah tiba,” pinta sejumlah lelaki tersebut. Dan ternyata sejumlah lelaki tersebut adalah malaikat yang sedang menjelma menjadi manusia. Perlatan untuk menguburkan pada umumnya turut serta dibawa sejumlah lelaki tersebut seperti kafan, wewangian, kapak, cangkul, dan sekop.

Para malaikat pun mendatangi tempat Nabi Adam. Ketika para malaikat mendekat, Siti Hawa melihat dan mengenali mereka, Siti Hawa pun berlindung kepada Nabi Adam.

“Jauh-jauhlah dariku. Aku pernah melakukan kesalahan dikarenakan olehmu. Biarkan aku bersama malaikat Tuhanku tabâraka wa ta’âlâ,” kata Nabi Adam kepada Siti Hawa.

Kemudian Para malaikat mencabut nyawa Nabi Adam dan memandikannya, mengkafaninya, memberinya wewangian, menyiapkan liang lahat, juga menyalatinya. kemudian mereka turun ke kuburnya, memasukkan jenazah Nabi Adam ke dalam liang lahat, lalu mereka meletakkan bata di atasnya.

Setelah selesai naik ke atas kubur, para malaikat menimbunnya dengan batu. Mereka berseru, “Wahai anak cucu Adam, ini adalah sunnah kalian semua”. Nabi Adam wafat berusia sekitar 1000 tahun, kemudian Siti Hawa menyusulnya selang satu tahun kemudian.

Dari Kisah Nabi Adam singkat saat wafatnya, dapat dipetik pelajaran berharga untuk generasi berikutnya tentang bagaimana seharusnya memperlakukan orang meninggal. Manusia tidak hanya dihormati saat masih hidup saja, tetapi juga saat mereka meninggal.

Baca juga: Doa selamat dunia akhirat

Penghormatan kepada orang meninggal pun tidak berlebihan. Tidak ada prosesi pembakaran mayat, mutilasi tubuh, apalagi menempeli jenazah dengan perhiasan, dan atau prosesi yang lain-lainnya. Manusia yang berbahan dari tanah kembali ke tanah, tempat asalnya.

Ya, itulah kisah Nabi Adam dan Hawa singkat namun lengkap sekali, semoga artikel ini bermanfaat untuk kita semua, share ke teman Anda agar dapat mengetahui juga mengenai kisah Adam dan Siti Hawa ini. Terima kasih telah mengunjungi Sudut Sekolah.