Latar belakang, penyebab, tujuan, dampak agresi militer Belanda 1
Latar belakang, penyebab, tujuan, dampak agresi militer Belanda 1

Agresi Militer Belanda 1: Latar Belakang, Penyebab, Tujuan, dan Dampak

Diposting pada

Agresi militer Belanda 1 – Memang peristiwa agresi militer Belanda 1 kini sudah tidak terjadi lagi. Akan tetapi, sebagai generasi muda kita juga perlu mengetahui bagaimana sejarah dari peristiwa tersebut. Agresi militer Belanda 1 yang juga dikenal dengan sebutan “Operatie Product” ini adalah operasi militer Belanda yang dilakukan di pulau Jawa dan Sumatra terhadap Republik Indonesia pada 21 Juli 1947 hingga 5 Agustus 1947.

Agresi ini tidak terlepas dari dampak perjanjian Linggarjati yang telah disepakati Indonesia dan Belanda pada 25 Maret 1947. Lantas, bagaimanakah latar belakang, penyebab, tujuan, dan dampak dari agresi militer Belanda?

Sebelum kita masuk ke dalam penjelasannya, jangan lupa untuk membaca tentang sejarah agresi militer Belanda 2. Berikut ini adalah penjelasannya.

Latar Belakang Agresi Militer Belanda 1

Agresi militer yang dilakukan oleh Belanda tentu saja tidak terjadi begitu saja, tetapi ada hal-hal yang melatarbelakangi dan membuat peristiwa tersebut bisa terjadi. Adapun hal yang menjadi  latar belakang agresi militer Belanda 1, yakni pihak Belanda tidak terima hasil Perundingan Linggarjati yang sebelumnya sudah ditetapkan bersama.

Pada tanggal 15 Juli 1947, Van Mook mengeluarkan peringatan RI menarik mundur pasukan sejauh 10 km dari garis demarkasi. Akan tetapi, pimpinan RI menolak permintaan Belanda tersebut. Merespon penolakan tersebut, pada tanggal 20 Juli 1947, Van Mook mengumumkan melalui siaran radio bahwa Belanda tidak terikat lagi pada hasil Perundingan Linggarjati. Kurang dari satu hari setelah itu, agresi militer Belanda I pun dimulai. Itulah yang menjadi latar belakang agresi militer Belanda 1 di Indonesia

Penyebab Agresi Militer Belanda 1

Adapun yang menjadi penyebab agresi militer Belanda 1 karena terjadinya perselisihan paham antara Indonesia dan Belanda mengenai hasil Perundingan Linggarjati. Menurut Indonesia, Operasi Agresi Militer yang dilakukan Belanda merupakan pelanggaran Perundingan Linggarjati. Namun sikap yang berbeda justru ditunjukkan oleh pihak Belanda.

Belanda memaksakan kehendak mereka untuk menjadikan Negara Indonesia sebagai negara persemakmuran Belanda. Pada negara persemakmuran ini, Belanda sebagai negara induknya. Tentu saja hal tersebut ditolak dan mendapatkan pertentangan oleh bangsa Indonesia yang menginginkan kedaulatan dan terlepas dari campur tangan bangsa asing, termasuk Belanda. Perselisihan itulah yang menjadi penyebab Agresi Militer Belanda 1 di tanah air.

Tujuan Agresi Militer Belanda 1

Datang ke Indonesia dan melakukan agresi tentunya tidak mungkin dilakukan jika tidak memiliki tujuan atau misi khusus. Berikut ini beberapa tujuan agresi militer Belanda 1 yang harus kamu ketahui:

1. Tujuan Politik

Pihak Belanda ingin mengelilingi dan mengepung ibu kota Republik Indonesia dan menghilangkan kedaulatan Indonesia yang telah kita dapatkan dengan kerja keras dan susah payah. Belanda ingin Indonesia jatuh kembali ke pangkuan Belanda.

2. Tujuan Ekonomi

Sementara itu dari aspek ekonomi, Belanda ingin menguasai sumber daya alam yang dimiliki oleh Indonesia yang dikenal dengan negaranya yang kaya. Belanda akan mengambil alih makanan, rempah-rempah, dan bahan-bahan ekspor yang lainnya.

3. Tujuan Militer

Belanda juga mempunyai misi khusus yaitu menghancurkan Tentara Nasional Indonesia. Hal ini menjadi salah satu tujuan Agresi Militer Belanda 1.

Bagaimana Kronologi Agresi Militer Tersebut?

Singkatnya, Agresi Militer Belanda yang dipimpin oleh Van Mook ini diawali dengan aksi penyerangan di daerah-daerah Pulau Jawa dan juga Sumatra. Akan tetapi pada saat itu, tentara kita belum siap menghadapi serangan tersebut sehingga membuat TNI merasa kocar-kacir dan terpencar-pencar melawan gempuran dari tentara Belanda.

Menghadapi tekanan seperti itu, pihak TNI akhirnya mendirikan benteng pertahanan yang baru dan melancarkan strategi perang gerilya guna menghadapi pasukan tentara Belanda. Strategi ini terbilang cukup berhasil, pasalnya gerakan Belanda menjadi terbatas dan hanya bisa menyerang di kota-kota besar dan jalan raya. Sementara itu di luar kota dikuasai oleh tentara Indonesia.

Pada 29 Juli 1947, pesawat Dakota Republik dengan simbol Palang Merah di badan pesawat yang membawa obat-obatan dari Singapura, sumbangan Palang Merah Malaya untuk Tentara Nasional Indonesia ditembak jatuh oleh Belanda yang mengakibatkan tewasnya beberapa tentara diantranya adalah Komodor Muda Udara dr. Abdulrahman Saleh,  Komodor Muda Udara Mas Agustinus Adisucipto, dan Perwira Muda Udara I Adisumarno Wiryokusumo.

Aksi Belanda Dikecam PBB

Agresi militer ini menimbulkan reaksi besar dari dunia internasional. Salah satunya adalah dari Perserikatan Bangsa Bangsa. Pada tanggal 30 Juli 1947, masalah Indonesia dan Belanda ini langsung masuk ke salah satu pembahasan dewan keamanan PBB. Mereka (re:DK PBB) meminta penghentian permusuhan antara kedua belah pihak. Kemudian pada tanggal 4 Agustus 1947 kembali terjadi genangan senjata.

Namun sebelumnya, memang Indonesia sudah melapor ke PBB mengenai tindakan Belanda yang dianggap tidak menaati perjanjian Linggarjati yang telah disepakati bersama. Namun Belanda tidak memperdulikan reaksi keras dari dunia internasional, termasuk Inggris, yang juga tak lagi menyetujui penyelesaian secara militer.

Selanjutnya pada tanggal 25 Agustus 1947 Dewan Keamanan PBB membentuk suatu komite yang bertugas sebagai penengah konflik bersenjata antara Belanda dan Indonesia. Komite ini juga disebut Komisi Tiga Negara karena hanya beranggotakan 3 negara saja, yaitu Australia, Belgia, dan juga Amerika Serikat. Australia yang dipilih oleh Indonesia, Belgia yang dipilih oleh Belanda, sedangkan Amerika Serikat sebagai pihak yang netral. Dari pihak Australia diwakili oleh Richard C. Kirby, untuk Belgia diwakili oleh Paul van Zeeland dan Amerika Serikat selaku pihak netral menunjuk Dr. Frank Graham sebagai wakilnya.

Akhirnya terciptalah genjatan senjata, akan tapi terjadi hanya sementara saja. Belanda kembali mengingkari janji dalam perjanjian yang disepakati berikutnya dengan melakukan operasi militer yang lebih besar pada tanggal 19 Desember 1948. operasi militer tersebut dikenal dengan sebutan. Agresi Militer Belanda II. Itulah gambaran dan kronologi singkat bagaimana terjadinya Agresi Militer Belanda Pertama di Indonesia.

Dampak Agresi Militer Belanda 1

Terjadinya Agresi militer menimbulkan dampak yang begitu luar biasa, terutama untuk Indonesia. Adapun beberapa dampak yang terjadi pasca agresi militer Belanda 1 yaitu sebagai berikut :

1. Daerah Perkebunan Sempat Dikuasai Belanda

Pada saat terjadinya Agresi Militer, Belanda sempat menguasai daerah perkebunan yang lumayan luas. Dimana daerah perkebunan tersebut meliputi wilayah Sumatera Timur, Palembang, Jawa Barat dan Jawa Timur. Jelas hal ini menimbulkan kerugian bagi Indonesia.

2. Banyak Korban Tewas

Banyak nyawa yang harus melayang akibat terjadinya peristiwa agresi militer Belanda 1 ini. Jika ditotal, ada sekitar 150 ribu pasukan tewas dari total 500 ribu kekuatan militer Indonesia. Tak hanya dari militer, warga sipil pun menjadi korban dalam pertempuran ini.

3. Perekonomian Menurun

Di setiap peperangan atau pertempuran pasti menimbulkan masalah untuk perekonomian yang semakin menurun. Wajar saja, mengingat anggaran sudah terlalu banyak dikeluarkan untuk membeli senjata dan lain sebagainya. Belum lagi banyaknya bangunan yang hancur akibat perang yang membuat negara harus menanggung kerugian yang begitu besar.

4. Belanda Juga Rugi!

Sebenarnya tak hanya Indonesia saja yang dirugikan dengan adanya operasi militer ini, Belanda pun yang notabene merupakan pihak yang menyerang juga alami kerugian dalam hal ini. Apa itu? Yaitu lunturnya kepercayaan dunia internasional terhadap negara ini. Hal ini disebabkan karena adanya reaksi penentangan Internasional sehingga berkurangnya dukungan terhadap Belanda.

Nah sekarang sudah tau kan bagaimana sejarahnya peristiwa agresi militer Belanda 1 di Indonesia? Semoga bermanfaat bagi semua dan selamat jalan para pahlawan yang yang telah gugur dimedan perang.